REAKTUALISASI PERAN PEMUDA MENYONGSONG PILKADA DI PALUTA

di Edit dari :dprdkutaikartanegara.go.id – 06 April 2005 02:16:55 WITA

Peran nyata Pemuda dan Mahasiswa dalam dimensi Sejarah Perjuangan Bangsa terukir dalam buku dan diakui bangsa ini. Dari masa ke masa sejarah menampilkan sosok pemuda baik berkelompok dalam organisasi maupun figur tokoh yang mempunyai ke khas-an tersendiri. Bila kita bagi dalam interval 20 tahunan maka terdapat 5 gelombang perjalanan sejarah Pemuda Indonesia, sejak kebangkitan nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, kemerdekaan 1945, bangkitnya orde baru 1966, dan bangkit nya orde reformasi 1998. Pada masa ini khususnya di daerah Kutai Kartanegara pemuda mempunyai peluang besar dalam Program Gerbang Dayaku. Daerah ini sebentar lagi melangsungkan Pemilihan Kepala Daerah secara langsung menuntut reaktualisasi peran pemuda.

Pendahuluan

Generasi muda adalah penentu perjalanan bangsa di masa berikutnya. Tokoh Pemuda, Pengurus KNPI disemua tingkatan sebagai inti dari generasi muda, mempunyai kelebihan dalam pemikiran ilmiah, selain semangat mudanya, sifat kritisnya, kematangan logikanya dan ‘kebersihan’-nya dari noda orde masanya. Tokoh Pemuda adalah motor penggerak utama perubahan. Pemuda diakui perannya sebagai kekuatan pendobrak kebekuan dan kejumudan masyarakat.
Perlukan ditata kembali peran pemuda ?. Sebuah pertanyaan yang harus dijawab oleh Pemuda itu sendiri.
Pemilihan Kepala Daerah secara langsung adalah bagian dari hasil perjuangan Pemuda. Amanat Reformasi yang di perjuangkan kaum muda pada tahun 1998 adalah peningkatan kehidupan demokrasi. Amanat ini perlu di amankan oleh para pemuda itu sendiri.

Reaktualisasi

Sebuah istilah yang dipopulerkan oleh kalangan Tentara Nasional Indonesia, yang ketika itu mendapat sorotan tajam dari publik. Khususnya Dwi Fungsi ABRI yang dianggap kaum muda sudah terlalu jauh masuk dalam wilayah Politik kaum Sipil. TNI menjawab kritik publik dengan menyampaikan “Paradigma Baru TNI”, dimana TNI telah melakukan Redifinisi, Refosisi dan Reaktualisasi peran, fungsi dan tugas-nya. Mulai saat itu istilah reaktualisasi menjadi istilah yang populer.
Dalam pengertian tersebut reaktualisasi diartikan penataan kembali, agar mampu menjalankan dan menyesuaikan peran dengan perkembangan zaman dan aspirasi masyarakat.
Berkaitan dengan makalah ini reaktualisasi diartikan penataan kembali peran Pemuda agar mampu berkiprah dan menyesuaikan peran dengan per-kembangan zaman dan aspirasi mayarakat Kutai Kartanegara.

Peran Nasionalisme Pemuda dari masa ke masa

Widodo Dwi Putro, peneliti LP3ES Jakarta, mengupas tentang nasionalisme di rublik opini Kompas, Rabu 11 Juni 2003 dengan baik, lewat tulisan berjudul “Nasionalisme Gelombang Keempat”. Widodo mendefinisikan nasionalisme sebagai sikap dan tingkah laku individu atau masyarakat yang merujuk pada loyalitas dan pengabdian terhadap bangsa dan negaranya.
Namun, secara empiris, nasionalisme tidak sesederhana definisi itu, lanjut Widodo. Nasionalisme tidak seperti bangunan statis, tetapi selalu dialektis dan interpretatif, sebab nasionalisme bukan pembawaan manusia sejak lahir, melainkan sebagai hasil peradaban manusia dalam menjawab tantangan hidupnya. Terbukti dalam sejarah Indonesia, kebangkitan rasa nasionalisme didaur ulang kembali oleh para mahasiswa dan pemuda, karena mereka merasa ada yang menyimpang dari perjalanan nasionalisme bangsanya.

1. Nasionalisme Gelombang Pertama: Kebangkitan Nasional 1908

Berdasarkan sejarah, gerakan kebangkitan nasionalisme Indonesia diawali oleh Boedi Oetomo di tahun 1908, dengan dimotori oleh para mahasiswa kedokteran Stovia, sekolahan anak para priyayi Jawa, di sekolah yang disediakan Belanda di Djakarta.
Para Pemuda yang terdiri dari mahasiswa kedokteran di Stovia, merasa muak dengan para penjajah, –walaupun mereka sekolah di sekolah penjajah dengan membuat organisasi yang memberi pelayanan kesehatan kepada rakyat yang menderita.

2. Nasionalisme Gelombang Kedua: Soempah Pemoeda 1928

Setelah Perang Dunia I, filsafat nasionalisme abad pertengahan, mulai merambat ke negara-negara jajahan melalui para mahasiswa negara jajahan yang belajar ke negara penjajah. Filsafat nasionalisme itu banyak mempengaruhi kalangan terpelajar Indonesia, misalnya, Soepomo ketika merumuskan konsep negara integralistik banyak menyerap pikiran Hegel. Bahkan, Soepomo terang-terangan mengutip beberapa pemikiran Hegel tentang prinsip persatuan antara pimpinan dan rakyat dan persatuan dalam negara seluruhnya. Demikian pula, pada masa ini banyak diciptakan lagu-lagu kebangsaan yang sarat dengan muatan semangat nasionalisme seperti Indonesia Raya, Dari Sabang Sampai Merauke, Padamu Negeri, dan sebagainya.
Selain Soepomo, Hatta, Sutan Syahrir pun sudah aktif berdiskusi tentang masa depan negaranya, ketika mereka masih belajar di benua Eropa, atas beasiswa politic-etis balas budi-nya penjajah Belanda. Mereka inilah di masa pra & pascakemerdekaan yang nantinya banyak aktif berkiprah menentukan arah biduk kapal Indonesia.
Di dalam negeri sendiri, Soekarno sejak remaja, masa mahasiswanya bahkan setelah lulus kuliahnya, terus aktif menyuarakan tuntutan kemerdekaan bagi negerinya, lewat organisasi-organisasi yang tumbuh di awal abad 20. Soekarno menjadi penghuni langganan penginapan gratis di penjara Sukamiskin dan penjara-penjara yang lainnya.
20 tahun setelah kebangkitan nasional, kesadaran untuk menyatukan negara, bangsa dan bahasa ke dalam 1 negara, bangsa dan bahasa Indonesia, telah disadari oleh para pemoeda yang sudah mulai terkotak-kotak dengan organisasi kedaerahan seperti Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatera dan sebagainya, kemudian diwujudkan secara nyata dengan menggelorakan Sumpah Pemoeda di tahun 1928.

3. Nasionalisme Gelombang Ketiga: Kemerdekaan 1945

Pada nasionalisme gelombang ketiga ini, peran nyata para pemuda yang menyandra Soekarno-Hatta ke Rengas-Dengklok agar segera mem-proklamirkan kemerdekaan Indonesia, dapat kita baca dari buku-buku sejarah. Kurang dari 20 tahun (hanya 17 tahun), sejak Soempah Pemoeda dikumandangkan.
Cita-cita mengisi kemerdekaan yang sudah banyak didiskusikan oleh Soekarno, Hatta, Soepomo, Syahrir, dll sejak mereka masih berstatus mahasiswa, harus mengalami pembelokan implementasi di lapangan, karena Soekarno yang semakin otoriter dan keras kepala dengan cita-cita dan cara yang diyakininya.
Akhirnya Soekarno banyak ditinggalkan oleh para koleganya yang masih memegang idealismenya, dan mencapai puncaknya ketika Hatta, sebagai salah seorang proklamator, harus mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden, karena tidak kuat menahan diri untuk terus menyetujui sikap dan tindakan sang Presiden yang semakin otoriter dan semau gue.

4. Nasionalisme Gelombang Keempat: Lahirnya Orde Baru 1966

Tepat 20 tahun setelah kemerdekaan, terjadi huru-hara pemberontakan G30S/PKI dan eksesnya. Tanpa peran besar mahasiswa dan organisasi pemuda serta organisasi sosial kemasyarakatan di tahun 1966, Soeharto dan para tentara tidak mungkin bisa ‘merebut’ kekuasaan dari penguasa orde-lama Soekarno.
Tetapi sayang, penguasa Orde Baru mendepak para pemuda dan mahasiswa yang telah menjadi motor utama pendorong mobil RI yang mogok, sekaligus penggantian sopir dari Soekarno ke Soerharto. Bahkan sejak akhir tahun 1970-an para mahasiswa dibatasi geraknya dalam berpolitik dan dikungkung ke dalam ruang-ruang kuliah di kampus lewat NKK/BKK. Sebaliknya para tentara diguritakan ke dalam tatatan masyarakat sipil lewat dwifungsi ABRI.

5. Nasionalisme Gelombang Kelima: Lahirnya Orde Reformasi 1998

Bangunan rumah “Negara RI” dapat dijaga ketat dengan laras senapan lebih dari 20 tahun, yaitu hingga mencapai 1,5 kali lipatnya menjadi 32 tahun. Tetapi akhirnya goyah, walaupun bukan oleh gugatan para pemuda dan mahasiswa, tetapi oleh krisis moneter, yang menyingkap kain penutup “bangunan” negara RI, sehingga menampakkan pilar-pilar penyangganya yang sudah demikian kropos, digerogoti oleh rayap-rayap yang menjadi begitu gemuk dan makmur lewat jejaring KKN.
Gelombang krismon yang melanda Asia Tenggara, dimanfaatkan dengan baik oleh para mahasiswa dan pemuda, yang sudah termarjinalkan lewat laras ABRI, begitu muak melihat kenyataan bangunan RI.
Para pemuda berhasil menjatuhkan Soeharto dari kursinya. Tetapi sayang, para penggantinya tak dapat menyatukan seluruh kekuatan bangsa.

Bagaimana Nasionalisme Gelombang ke enam :

Siklus gelombang nasionalisme 20 tahunan di Indonesia, di jaman orde baru dapat dihambat dengan kekuatan militer. Di orde reformasi sekarang ini, para pemuda dan mahasiwa perlu mempersiapkan diri sebaik-baiknya dalam membangkitkan kembali nasionalisme gelombang keenam!
Nasionalisme yang perlu diwujudkan di gelombang keenam adalah bukan nasionalisme di gelombang-gelombang sebelumnya. Kita harus memilih nasionalisme yang humanis dan dapat menjadi rekan sejawat demokrasi. Tentu saja dalam konteks ini gagasan nasionalisme gelombang keenam ini tidak dapat dibebankan pada pundak pejabat negara, perwira militer, atau kalangan intelektual saja, tetapi juga perlu mendengar dan merekam suara masyarakat akar rumput yang selama ini tidak tersuarakan.

Peran Pemuda Menyongsong Pilkada

Apa yang kita lakukan ? Sebuah pertanyaan yang harus kita jawab bersama. Dalam diskusi saya berharap ini akan dijawab oleh Saudara-saudara yang berkumpul hari ini. Karena orang lain hanya bisa memberikan pedoman, bimbingan dan arah saja yang menjalani adalah para Pemuda itu sendiri.
Peraturan Pemerintah No 6 Tahun 2005 yang menjadi acuan Pemilihan Kepala Daerah secara langsung, ditanda tangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono pada tanggal 11 Pebruari 2005, hingga hari ini belum sampai 2 bulan berlakunya. Sistem Pemilihan Kepala Daerah secara langsung ini adalah barang baru yang belum pernah diuji pelaksanaannya. Satu-satunya pengalaman kita adalah Pemilu Presiden secara langsung tahun 2004 yang lalu.
Potensi konflik dalam Pilkada merupakan subyek yang harus menjadi perhatian Pemuda di wilayah ini. Karena Pemuda lah yang dapat meredam potensi itu, kegiatan hari ini adalah bentuk nyata dari usaha meredam konflik tersebut yaitu dengan cara mensosialisasikan sistem Pemilihan tersebut baik kepada para Pemuda itu sendiri maupun kepada masyarakat.
Gesekan di lapangan akan muncul ketika ada mobolisasi massa dari para elit politik akan tetapi bila rakyat memahami sistem itu maka rakyat tidak akan terintimidasi. Penjelasan yang sejelas-jelasnya kepada masyarakat tentang arah dan orientasi sistem itu serta mengontrolnya agar berjalan dengan baik. Itulah peran Pemuda yang paling prinsip. Pemuda khususnya Tokoh-tokohnya harus mengambil peran dan harus diberi peran dalam proses Pilkada yang segera akan berlangsung nanti. Jangan sampai justru para tokoh Pemuda yang terpropokasi dan sebagai pencipta konflik.
Disamping itu yang penting lagi para Pemuda yang terpilih sebagai Pelaksana Pemungutan suara, melaksanakan tugas dengansebaik-baiknya. Dilain pihak mengawasi pelaksanaan pilkada agar berjalan baik, mengajak para pemilih untuk menggunakan haknya adalah peran yang tidak kalah pentingnya.

Kesimpulan

Dalam setiap “revolusi” nasionalisme, peran pemuda tak pernah absen.
Reaktualisasi peran Pemuda harus dirumuskan oleh Pemuda itu sendiri sesuai zamannya dan aspirasi yang berkembang.
Pemuda PALUTA telah mengaktualisasikan peran nya dalam setiap masa sejalan dengan peran Pemuda secara Nasional.
Peran Pemuda PALUTA dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat mempunyai peluang yang banyak dalam Program PEMbangunan PALUTA
Dalam tahapan Pilkada di PALUTA peran Pemuda mensosialiasi- kan Sistem Pemilihan Kepala Daerah Langsung dilain pihak sebagai Pelaksana Pemungutan Suara, melakukan pengawasan, mengajak Pemilih untuk menggunakan hak pilihnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: