Fatwa Politik Untuk Pemimpin ( Pemimpin Kab. PALUTA – Red )

Oleh: Shafwan Hadi Umry / Di sadur Oleh Asrul Aziz. SE

Opini – Pada hakikatnya manusia adalah khalifah Tuhan di muka bumi. Tugas kekhalifahan itu lebih berat lagi diemban oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin mengemban amanat yang berat, karena dia memiliki kekuasaan yang lebih dari orang lain untuk mengatur kehidupan, mengembangkan arah peradaban manusia.

Dalam pasal kepemimpinan ini Bukhari al Jauhari, merasa perlu menceritakan kepemimpinan nabi-nabi, khususnya Nabi Musa, Nabi Sulaiman, Nabi Yusuf, dan Nabi Muhammad Saw. Mereka memiliki kekuasaan untuk memerintah kaumnya, tetapi tetap hidup sederhana dan tidak terbelengu oleh materialisme dan kemegahan duniawi. Menjalankan kekuasaan untuk tujuan spritual, bukan untuk sekadar tujuan material.

Syarat-Syarat Pemimpin

Pada bagian akhir fasal 5 Bukhari al-Jauhari menjelaskan syarat-syarat seorang raja atau pemimpin.
(1) Akil baligh atau dewasa, dan berpendidikan dengan demikian dia akan dapat membedakan yang baik dan yang jahat.
(2) Seorang raja atau pemimpin itu mesti memiliki ilmu pengetahuan yang banyak dan punya wawasan yang luas.
(3) Seorang raja mesti pandai memilih menteri.
Pemilihan menteri berdasarkan kepandaian dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian dapat mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik sesuai dengan bidangnya.
(4) Raja yang baik hendaknya baik pula rupanya supaya semua orang menyukai dan mencintainya. Jika rupanya kurang baik, hendaklah budi pekertinya tinggi;
(5) Raja / pemimpin hendaklah pemurah dan dermawan, sebab pemurah itu sifat bangsawan dan orang berbudi, sedangkan kikir itu sifat orang musyrik dan murtad.
(6) Pemimpin senantiasa ingat kebajikan orang yang lemah membantunya selama dalam kesukaran, dan membalasnya dengan kebaikan pula.
(7) Pemimpin/Raja hendaklah berani menegur jenderal dan panglima perang, jika yang terakhir ini memang menyalahi perintah dan undang-undang,
(8) Pemimpin jangan terlalu banyak makan dan tidur, sebab banyak makan dan tidur merupakan sumber bencana.
(9) Pemimpin tidak gemar main perempuan, sebab gemar akan perempuan bukanlah tanda orang berbudi; (10) Pemimpin hendaklah laki-laki, sebab perempuan lebih suka memerintah di belakang layar dan sering menurutkan emosi dibandingkan pertimbangan akal sehat. Perempuan dapat dijadikan raja apabila tidak ada pemimpin laki-laki yang patut dirajakan, asal saja jangan mendatangkan fitnah.

Apa saja tanda-tanda seorang raja yang berakal budi dan bertindak rasional? Bukhari menyebutkan sebagai berikut:
(1) Bersikap baik terhadap orang yang berbuat jahat, berusaha menggembirakan hatinya dan mengampuni bila benar-benar bertobat
(2) Rendah hati kepada orang yang berkedudukan lebih rendah dan hormat kepada orang yang martabat, kepandaian dan ilmunya lebih tinggi.
(3) Mengerjakan dengan sungguh-sungguh dan cekatan pekerjaan yang baik dan perbuatan yang terpuji
(4) Membenci pekerjaan yang keji, perbuatan jahat, segala bentuk fitnah dan berita yang belum tentu kebenaranya;
(5) Senantiasa menyebut nama Allah dan meminta ampunan dan petunjuk kepada-Nya, ingat akan kematian, dan siksa kubur;
(6) Raja mestilah menyatakan apa yang benar-benar dilihat dan diketahui, sesuai dengan tempat dan waktu, yaitu arif menyampaikan sesuatu berita
(7), Senantiasa bergantung pada Allah dapat memudahkan segala yang sukar asal saja mau berikhtiar dan banyak memohon ampunan-Nya.

PILKADA PALUTA

Dewasa ini beberapa wilayah di Indonesia bersiap-siap menyelenggarakan pemilihan kepala daerah secara langsung. Penyuluhan dan publikasi kepada rakyat sebagai penentu akhir dalam PILKADA PALUTA syarat mutlak untuk dilakukan. Hak ini agar rakyat dapat memilih pemimpinan yang muncul atas pilihan rakyat, dan bukan mencari pilihan ibarat memilih kucing dalam karung. Silap-silap terpilih kucing yang bermental harimau dan siap menerkam rakyatnya dengan taring-taring tajamnya yang sengaja disembunyikan.

Kearifan pujangga masa lalu dalam menyampaikan fatwa politik dan manajemen pemerintahan perlu direnungkan dan dipertimbangkan secara matang agar rakyat tidak lagi terjebak dan terperosok pada lubang yang sama. Namun, seperti kata Fuad Hasan, budayawan yang juga mantan Mendikbud RI, seekor keledai tidak pernah terperosok pada lubang yang sama. Akan tetapi manusia bisa berkali-kali terperosok pada lubang yang sama. “Inilah yang membedakan manusia dengan keledai”, katanya.

Agar masyarakat yang akan melaksanakan pemilihan langsung tidak terjebak pada lubang yang sama, maka diperlukan sikap ketelitian dan kecermatan dalam menjatuhkan pilihan. Sebuah fatwa politik dan manajemen kekuasan versi Bukhari al-Jauhari telah berbicara banyak dalam beberapa cuplikan tulisan ini. Setelah itu marilah kita untuk menjatuhkan pilihan sendiri dengan segala komitmen dan bertanggung jawab secara bijaksana.

* Penulis adalah budayawan

Rakyat PALUTA Adalah Penentu Mutlak dalam menentukan Pemimpin yang Pantas untuk memimpin daerah PALUTA – – – –

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: